Monday, August 19, 2019

Menggenggam Harapan

Sekitar tahun 1947 Panitia Agung terbentuk ditengah kekacauan dan hiruk pikuk yang terjadi di Jakarta akibat penduduk pasukan Belanda. Panitia Agung sendiri mempunyai tugas untuk menyelidiki dan merencanakan penempatan ibu kota. Presiden Soekarno termasuk dalam anggota Panitia Agung tersebut .Pada era ke-presidenan  Soekarno sekitar tahun 1950-an sesudah kemerdekaan pemindahan ibu kota sudah menjadi perbincangan, yang mana pada saat itu ibu kota Jakarta akan dipindah ke Kalimantan tepatnya di Palangka Raya. Sebelum itu kota Yogyakarta sempat menjadi ibu kota karena situasi yang menjelang agresi milliter Belanda yang menyebabkan ibu kota harus segera di selamatkan, dan lalulah ibu kota dikembalikan ke Jakarta. Setelah itu Palangka Raya sendiri diusulkan oleh Soekarno, dan diresmikan tanggal 19 Juli 1957. Palangka Raya sendiri mempunya arti ‘tempat suci,agung,mulia’. 

Namun saat ulang tahun Jakarta pada tanggal 22 Juni 1964, Soekarno berpidato untuk meresmikan Jakarta sebagai ibu kota negara lewat Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1964. Lantas Palangka Raya yang akan menjadi ibu kota pun tidak terealisasikan. Tidak cukup sampai disitu, pada era ke-presidenan Soeharto pemindahan ibu kota di perbincangkan lagi. Namun bukan Palangka Raya yang kembali diusulkan, melainkan usulan presiden Soeharto adalah daerah Jonggol untuk menjadi ibu kota. Tapi perencanaa itu hanya lah sebuah perencanaan.

Di tahun 2004, Susilo Bambang Yudhoyono atau yang akrab dipanggil “SBY” menjabat sebagai presiden. Di era ke-presidenan SBY perencanaan pemindahan ibu kota menjadi perbincangan lagi. Yang mana SBY membentuk tim khusus yang bertugas mengkaji pemindahan ibu kota pada saat itu. Namun SBY tak pernah mengungkapkan hasil kajian nya secara menyeluruh kepada publik, yang mana padahal saat itu SBY memimpin selama dua periode. Terjadi lagi perencanaan yang tak tentu arah nya, yang tak terealisasikan.


Setelah era reformasi, Jakarta semakin banyak membeban pikul sebagai pusat pemerintahan dan pusat ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang semakin bertambah membuat Jakarta semakin banyak terbeban. Pada era kolonial Jakarta dirancang hanya untuk 600 jiwa, namun pada hari ini sudah ada kurang lebih 10 juta penduduk. Banyak nya penduduk di Jakarta sudah membuat lingkungan yang tidak nyaman. Pembangunan yang berdempetan membuat kota semakin sesak. Pencemaran lingkungan dimana-mana. Banjir sering terjadi akibat sampah yang menumpuk. Lapangan pekerjaan yang tak banyak lagi tersedia. Kesenjangan sosial sering terjadi. Pada tahun 2017, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menyebutkan kemacetan di Jakarta mengakibatkan kerugian hingga Rp67,5 triliun.

Lantas harapan saya tentang pemindahan ibu kota adalah akan terciptanya lingkungan yang bersih, bebas polusi, lebih banyak menciptakan ruang terbuka hijau, dan ada aturan yang lebih tegas untuk kebersihan lingkungan agar ibu kota yang baru memang benar-benar bisa dan siap menjadi ibu kota yang nyaman, indah, dan rapi. Ibu kota sendiri merupakan panutan dan tolak ukur untuk kota atau negara-negara lainnya. Dimulai dari kota yang bersih maka semua akan mudah dan nyaman ditempati, pada dasarnya nya kota yang bersih dimulai dari masyarakat yang peduli akan lingkungan nya. Dimulai dari hal kecil seperti jangan membuang sampah sembarangan, atau membuat tong sampah dengan hal yang unik agar masyarakat semakin tertarik untuk buang sampah pada tempat yang semestinya. Ini semua untuk menjaga dan merawat ibu kota Indonesia. Harapan berikutnya adalah bebas polusi yang dimana tidak ada lagi penebangan atau pembakaran lahan secara liar, agar polusi yang didapat nyaman dan pengurangan penggunaan transportasi yang berlebihan dengan menciptakan transportasi yang ramah lingkungan tanpa mencemari polusi. Tidak cukup pada kebersihan, harapan yang saya miliki adalah adanya kebijakan dan pembangunan infrastruktur dalam bidang ekonomi dan lainnya agar lebih merata pada seluruh daerah. Supaya tidak ada lagi kesenjangan sosial yang terjadi di Indonesia.  Mari kita wujudkan harapan kita untuk ibu kota yang baru dengan belajar dari hal yang sudah didapat dan menerapkan energi positif untuk membuat Indonesia yang lebih baik. Saya FATIMAH AZZAHRA. Inilah harapan saya.

sumber foto : https://images.app.goo.gl/N9Uefx9pW8UzMgALA