Menggenggam Harapan
Sekitar tahun 1947 Panitia
Agung terbentuk ditengah kekacauan dan hiruk pikuk yang terjadi di Jakarta
akibat penduduk pasukan Belanda. Panitia Agung sendiri mempunyai tugas untuk
menyelidiki dan merencanakan penempatan ibu kota. Presiden Soekarno termasuk
dalam anggota Panitia Agung tersebut .Pada era ke-presidenan Soekarno sekitar tahun 1950-an sesudah
kemerdekaan pemindahan ibu kota sudah menjadi perbincangan, yang mana pada saat
itu ibu kota Jakarta akan dipindah ke Kalimantan tepatnya di Palangka Raya. Sebelum
itu kota Yogyakarta sempat menjadi ibu kota karena situasi yang menjelang
agresi milliter Belanda yang menyebabkan ibu kota harus segera di selamatkan, dan
lalulah ibu kota dikembalikan ke Jakarta. Setelah itu Palangka Raya sendiri
diusulkan oleh Soekarno, dan diresmikan tanggal 19 Juli 1957. Palangka Raya
sendiri mempunya arti ‘tempat suci,agung,mulia’.
Namun saat ulang tahun Jakarta
pada tanggal 22 Juni 1964, Soekarno berpidato untuk meresmikan Jakarta sebagai
ibu kota negara lewat Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1964. Lantas Palangka Raya
yang akan menjadi ibu kota pun tidak terealisasikan. Tidak cukup sampai disitu,
pada era ke-presidenan Soeharto pemindahan ibu kota di perbincangkan lagi. Namun
bukan Palangka Raya yang kembali diusulkan, melainkan usulan presiden Soeharto
adalah daerah Jonggol untuk menjadi ibu kota. Tapi perencanaa itu hanya lah
sebuah perencanaan.
Di tahun 2004, Susilo
Bambang Yudhoyono atau yang akrab dipanggil “SBY” menjabat sebagai presiden. Di
era ke-presidenan SBY perencanaan pemindahan ibu kota menjadi perbincangan
lagi. Yang mana SBY membentuk tim khusus yang bertugas mengkaji pemindahan ibu
kota pada saat itu. Namun SBY tak pernah mengungkapkan hasil kajian nya secara
menyeluruh kepada publik, yang mana padahal saat itu SBY memimpin selama dua
periode. Terjadi lagi perencanaan yang tak tentu arah nya, yang tak
terealisasikan.
Setelah era reformasi,
Jakarta semakin banyak membeban pikul sebagai pusat pemerintahan dan pusat
ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang semakin bertambah membuat Jakarta semakin
banyak terbeban. Pada era kolonial Jakarta dirancang hanya untuk 600 jiwa,
namun pada hari ini sudah ada kurang lebih 10 juta penduduk. Banyak nya
penduduk di Jakarta sudah membuat lingkungan yang tidak nyaman. Pembangunan yang
berdempetan membuat kota semakin sesak. Pencemaran lingkungan dimana-mana. Banjir
sering terjadi akibat sampah yang menumpuk. Lapangan pekerjaan yang tak banyak
lagi tersedia. Kesenjangan sosial sering terjadi. Pada tahun 2017, Menteri
Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menyebutkan
kemacetan di Jakarta mengakibatkan kerugian hingga Rp67,5 triliun.
Lantas harapan saya tentang
pemindahan ibu kota adalah akan terciptanya lingkungan yang bersih, bebas
polusi, lebih banyak menciptakan ruang terbuka hijau, dan ada aturan yang lebih
tegas untuk kebersihan lingkungan agar ibu kota yang baru memang benar-benar
bisa dan siap menjadi ibu kota yang nyaman, indah, dan rapi. Ibu kota sendiri
merupakan panutan dan tolak ukur untuk kota atau negara-negara lainnya. Dimulai
dari kota yang bersih maka semua akan mudah dan nyaman ditempati, pada dasarnya
nya kota yang bersih dimulai dari masyarakat yang peduli akan lingkungan nya. Dimulai
dari hal kecil seperti jangan membuang sampah sembarangan, atau membuat tong
sampah dengan hal yang unik agar masyarakat semakin tertarik untuk buang sampah
pada tempat yang semestinya. Ini semua untuk menjaga dan merawat ibu kota
Indonesia. Harapan berikutnya adalah bebas polusi yang dimana tidak ada lagi penebangan
atau pembakaran lahan secara liar, agar polusi yang didapat nyaman dan
pengurangan penggunaan transportasi yang berlebihan dengan menciptakan
transportasi yang ramah lingkungan tanpa mencemari polusi. Tidak cukup pada
kebersihan, harapan yang saya miliki adalah adanya kebijakan dan pembangunan
infrastruktur dalam bidang ekonomi dan lainnya agar lebih merata pada seluruh
daerah. Supaya tidak ada lagi kesenjangan sosial yang terjadi di Indonesia. Mari kita wujudkan harapan kita untuk ibu kota
yang baru dengan belajar dari hal yang sudah didapat dan menerapkan energi
positif untuk membuat Indonesia yang lebih baik. Saya FATIMAH AZZAHRA. Inilah harapan
saya.
sumber foto : https://images.app.goo.gl/N9Uefx9pW8UzMgALA
sumber foto : https://images.app.goo.gl/N9Uefx9pW8UzMgALA


